Konsultasi Muamalat

  • 07:06:59 am on March 20, 2011 | 0
    Tags: ,

    Oleh Damanhuri Zuhri

    Penekanan tak sebatas pada pemahaman ilmu ekonomi Islam, tetapi juga menata
    hati. Retno Tri Handayani, Mahrini, dan Siska Agyrytasari tersenyum bahagia.
    Mahasiswi Sekolah Tinggi Ekonomi Islam (STEI SEBI) itu baru saja berhasil
    menjadi juara pertama Olimpiade Ekonomi Islam dan peserta terbaik pada Temu
    Ilmiah Nasional X tahun 2011 di Universitas Lambung Mangkurat, Banjarmasin,
    yang berakhir Ahad (13/3) lalu.

    Prestasi yang berhasil mereka capai bukanlah hal pertama yang berhasil
    dicatatkan oleh mahasiswa sekolah tinggi ini. Apa yang mereka raih merupakan
    rangkaian kegemilangan. Sebelumnya, kebanggaan misalnya diukir oleh M Wiwit,
    Usep Zainul Arif, dan Harisma Hamman yang meraih juara pertama Lomba Debat
    Ekonomi Islam tingkat nasional.

    Perhelatan itu digelar di Universitas Gajah Mada pada 2009. Sementara itu,
    mahasiswa lainnya pun menambah deretan prestasi. Pada 2009, M Makhrus, Abda
    Atik, dan Fahmi Nugraha menjadi juara pertama Lomba Karya Tulis Ekonomi Syariah
    se-Jawa di Universitas Negeri Semarang, Jawa Tengah.

    Sekolah tinggi yang terletak di Pondok Rangga, Curug, Bojongsaro, Depok, Jawa
    Barat ini lahir dari sebuah idealisme dan gagasan untuk menjadi institusi yang
    memberi kontribusi bagi kemaslahatan negara serta agama, juga mengemban visi
    terdepan dalam pengembangan ekonomi dan lembaga keuangan syariah.

    Ketua STEI SEBI Sigit Pramono mengatakan, untuk mencapai visi itu, pihaknya
    memiliki komitmen menjadi pusat pendidikan, penelitian, dan pengembangan
    ekonomi syariah. Namun, ia menegaskan, pembinaan mahasiswa pun menjadi
    perhatian selain komitmen memberikan pendidikan.

    Pembinaan berfokus pada lima karakter, yaitu berakhlakul karimah, berprestasi,
    berorganisasi, profesional dalam bidangnya, dan pelopor kebangkitan ekonomi
    umat yang dilakukan melalui sejumlah program. Ada program pembinaan kepribadian
    Islam, tahsin dan tahfiz, dan pengembangan kemampuan bahasa Arab dan Inggris.

    Para mahasiswa pun dibina untuk mengembangkan kapasitas kepemimpinan dan
    kepeloporan, pengembangan kemampuan wirausaha dan kemandirian, kemampuan
    bersosialisasi dengan masyarakat, kemampuan membangun jaringan, pengembangan
    kemampuan menulis dan penelitian, dan pengembangan minat dan bakat.

    Pembinaan kepribadian Islam atau mentoring Islam, jelas Sigit, merupakan
    program pembinaan unggulan. Sebab, kegiatan tersebut merupakan internalisasi
    Islam ke dalam pribadi para mahasiswa. “Dalam program ini, mahasiswa dimotivasi
    untuk menguatkan keimanannya dan memperbanyak amal saleh,” katanya di Depok,
    Selasa (15/3).

    Biasanya, pembinaan dilakukan secara berkelompok. Setiap kelompok, urai Sigit,
    terdiri dari 10 mahasiswa yang dibina langsung oleh para dosen atau mahasiswa
    senior. Direktur LPPM dan Marketing, Endang Ahmad Yani, menjelaskan, STEI SEBI
    menggelar dua program studi, yaitu Akuntansi dan Perbankan Syariah.

    Daya serap angkatan kerja di dunia praktisi dan akademisi terhadap dua program
    studi itu rata-rata mencapai 96 persen. Di sisi lain, lembaga ini berusaha agar
    dalam pembelajaran ekonomi Islam bukan sebatas ilmu, melainkan juga menyasar
    hati. Mahasiswanya,, terlepas berlatar belakang pesantren atau tidak,
    diwajibkan mengikuti mentoring Islam.

    “Kami berpikir, ekonomi Islam itu bukan sekadar mengerti ekonomi, melainkan
    perilakunya harus pula baik. Melalui mentoring, kami kerap mengevaluasi mereka,
    misalnya berapa halaman mereka mengaji Alquran dalam sepekan. Selain itu, kami
    berkeinginan ada asrama untuk mereka,” papar Endang.

    Program tahsin dan tahfiz dihadirkan untuk para mahasiswa yang dijalankan
    melalui SEBI Qur’an Centre (SQC). Ini usaha agar mahasiswa menyerap nilai-nilai
    yang terkandung dalam Alquran. Mereka diajar membaca Alquran dengan baik dan
    benar sesuai kaidah tajwid. Kegiatan ini digelar secara rutin di pagi hari
    sebelum kuliah.

    Sedangkan, lainnya adalah tahfiz atau menghafal Alquran, kajian tafsir
    ayat-ayat Alquran tentang ekonomi, mengulangi hafalan, pelatihan penerjemahan
    Alquran, dan musabaqah hifzul Quran. Menurut Endang, SQC digerakkan tujuh
    mahasiswa yang telah hafal Alquran 30 juz dan sejumlah mahasiswa yang hafal
    5-20 juz.

    Kegiatan organisasi mahasiswa yang menjadi bagian kegiatan mahasiswa tercakup
    dalam pembinaan sekolah tinggi ini. Organisasi tersebut terdiri atas Majelis
    Musyawarah Mahasiswa (MMM), Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), Islamic Economic
    Forum (IsEF), SEBI Solidarity for Palestine (SSP), klub olahraga, serta minat
    dan bakat.

    Pembinaan kapasitas mahasiswa STEI SEBI dilengkapi sejumlah pelatihan, baik
    dalam bentuk pelatihan dasar organisasi, kepemimpinan, pengelolaan zakat,
    audit, menulis karya ilmiah dan metodologi penelitian, maupun pelatihan
    mengelola baitul maal. “Mereka juga terlibat dalam kegiatan masyarakat dan
    kepemudaan.”

    Endang menyatakan, mahasiswa ikut aktif dalam kegiatan yang ada di masyarakat,
    misalnya memakmurkan masjid dan taman pendidikan Alquran, serta ikut dalam
    kegiatan majelis taklim. ed: ferry kisihandi

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.